BOGOR, CEKLISSATU—Hampir keseluruhan peternakan sapi perah di Kawasan Kunak 1 dan kunak II di Kecamatan Pamijahan dan Cibungbulang terjangkit penyakit mulut dan kuku (PMK). Dari total populasi 1000 lebih hampir semua terinfeksi virus PMK itu.
Diungkapkan salah satu peternak sapi perah Mandiri Farm Rizky Nugraha mengatakan untuk dkandangaya saja dari total 470 ekor sapi saat ini yang tersisa tinggal 420 ekor sapi perah, dan itu pun semuanya terserang PMK.
Baca Juga : Sebanyak 700 Sapi Perah Kena PMK, Ini Upaya Pemcam Cibungbulang
"Di kandang sapi saya hampir selurunya kena PMK dan angka kematian lumayan mulai induk dan dara, hingga Pedet ini hampir semua dalam dua minggu terpapar virus PMK," kata pemilik peternakan Mandiri Farm Rizky Nugraha ketika ditemui wartawan, Kamis 16 Juni 2022.
Rizky mengatakan, kasus ini masif dan cepat penularan bukan hitungan hari, tapi hitungan jam dan menit, makanya dari populasi kandang yang ada semua terinfeksi PMK.
Baca Juga : Ratusan Mahasiswa IPB Turun ke Desa Periksa Hewan Kurban
"Untuk keseluruhan di Kunak ini populasinya diatas 1000 ekor, kalau kandang kami hampir 100 persen terkena virus," kata Rizky.
Ketika ditanyai pencegahan dini, ia memberikan jamu herbal karena saat ini kesulitan mendapatkan obat pendukung dari Pemerintah.
"Ini solusi kami membuat jamu herbal yang ada dulu, karena sapi tak mendapat asupan makan banyak, hanya jamu saja, dan insyaAllah sapi ada peluang untuk hidup bertahan," keluhnya.
Baca Juga : Jangan Khawatir, PMK Tak Menular ke Manusia
Bahan-bahan yang diracik untuk jamu ke sapi yang terjangkit seperti, jahe merah, kunyit, gula merah, sampai telur ayam dan madu.
"Yang jelas hampir 90 persen produksi turun, berbanding lurus dengan kondisi saat ini. Hanya satu liter perekor jadi sangat drop produksi susu," ungkapnya.
Biasanya sebelum kasus menyerang untuk perekor dulu sampai 10 sampa 11 liter, untuk saat ini satu liter saja sudah maksimal.
"Pihak Dinas terkait sampai sekarang belum ada ke kandang, jadi kami usaha sendiri, bikin obat sendiri. Karena, semua peternak ingin ada vaksin buat pengobatan sapi, karena harus berpacu dengan waktu," tegasnya.
Kalau tidak ada tindakan resiko gulung tikar sangat besar, akan banyak yang kehilangan pekerjaan.
"Saat ini kami sendiri masih bertahan, kalau memang tidak ada penanganan khusus jumlah kasus kematian bakal terus meningkat," tuturnya.
Rizky mengakan selesai kasus ini tentu recovery untuk produksi susu tidak akan cepat penanganan butuh waktu lama.
"Recovery tidak cepat, sapi butuh sangat lama waktunya, untuk menaikan susu butuh sampai 1 bulan lebih, dan kembali lagi ke normal sangat sulit," katanya.
Comment