BOGOR, CEKLISSATU - Laptop terbuka, earphone terpasang, dan segelas kopi di sudut meja kini menjadi pemandangan umum di berbagai coffee shop dekat kampus. Tidak sedikit mahasiswa yang memilih mengerjakan tugas hingga berdiskusi kelompok di tempat tersebut dibandingkan belajar di perpustakaan.
Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan kebiasaan belajar mahasiswa. Coffee shop yang sebelumnya identik sebagai tempat nongkrong perlahan berubah menjadi ruang belajar alternatif yang dianggap lebih nyaman dan fleksibel.
Keberadaan fasilitas seperti WiFi, stop kontak, pendingin ruangan, hingga suasana yang santai menjadi alasan utama mahasiswa betah berlama-lama belajar di coffee shop. Bagi sebagian mahasiswa, suasana ramai dengan musik pelan justru membantu mereka lebih fokus dibandingkan ruangan yang terlalu sunyi.
Baca Juga: Disdik Kota Bogor Jemput Bola Tekan Angka Putus Sekolah, Mayoritas Terjadi Saat Transisi SMP ke SMA
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Applied Economics and Business Global menyebutkan bahwa suasana coffee shop dapat memengaruhi produktivitas dan kenyamanan belajar mahasiswa. Faktor seperti desain ruangan, pencahayaan, hingga interaksi sosial dinilai memberikan pengaruh terhadap motivasi belajar.
Fenomena ini juga berkaitan dengan konsep third place yang diperkenalkan sosiolog Ray Oldenburg. Dalam konsep tersebut, rumah menjadi ruang pertama, kampus atau tempat kerja sebagai ruang kedua, sedangkan coffee shop hadir sebagai ruang ketiga tempat seseorang dapat belajar, berdiskusi, sekaligus bersosialisasi secara lebih santai.
Di Indonesia, pertumbuhan industri coffee shop juga turut memengaruhi budaya belajar mahasiswa. Data dari berbagai laporan industri menunjukkan jumlah coffee shop terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, terutama di kota-kota pendidikan. Kehadiran tempat yang nyaman dengan konsep estetik membuat coffee shop semakin diminati generasi muda.
Penelitian dari Universitas Islam Negeri Antasari Banjarmasin menemukan bahwa sebagian mahasiswa tetap memilih perpustakaan karena dianggap lebih kondusif dan minim distraksi. Sementara itu, mahasiswa yang belajar di coffee shop cenderung lebih menyukai fleksibilitas suasana.
Selain itu, kebiasaan belajar di coffee shop juga memunculkan sisi lain, yaitu meningkatnya pengeluaran mahasiswa. Penelitian dalam Jurnal Antropologi Sumatera menyebutkan bahwa mahasiswa rela mengeluarkan biaya tambahan demi mendapatkan ruang belajar yang nyaman dan akses internet yang memadai.
Baca Juga: Rekomendasi Perpustakaan Cozy di Bogor untuk Tugas, Baca Buku, sampai Me Time
Di tengah padatnya aktivitas akademik, coffee shop akhirnya tidak lagi dipandang sekadar tempat membeli kopi. Bagi sebagian mahasiswa, tempat tersebut menjadi ruang mencari fokus, suasana baru, hingga kenyamanan emosional saat menghadapi tuntutan perkuliahan.
Siti Balqis Sari Manah