JAKARTA, CEKLISSATU -- Timnas Sepak Bola Pantai Indonesia menutup perjalanan di AFC Beach Soccer Asian Cup 2025 dengan kemenangan 6-4 atas Afghanistan di Jomtien Beach Arena, Pattaya.
Meskipun hasil ini tidak cukup untuk membawa tim lolos ke fase gugur, pertandingan terakhir itu menunjukkan bahwa Indonesia bisa bersaing.
Asep Triwahono, kapten tim, memimpin perjuangan hingga akhir turnamen berkesempatan berbagi cerit.
Asep sendiri berasal dari Sanur, Bali, dan sehari-hari bermain untuk Perseden Denpasar di Liga 4. Ia mulai mengenal sepak bola pantai sejak 2010, dan pertama kali terjun ke dunia sepak bola pantai saat mengikuti turnamen di Bali. Kala itu, Asep membawa nama desanya, yakni Sanur.
Pada 2014, ia mencoba seleksi Timnas untuk Piala AFF, tetapi ia belum berhasil menembus tim utama. Kesempatan kemudian datang pada 2018, ia kembali dipanggil dan sejak itu terus menjadi bagian
dari Timnas Sepak Bola Pantai Indonesia.
Menurut Asep, bermain di pantai memiliki tantangan berbeda dibandingkan sepak bola biasa. "Kalau di sepak bola, kita diajarkan mengontrol bola sebaik-baiknya di bawah. Kalau di pantai, kita kuasai bola di atas (udara)," jelasnya.
Selain itu, menurut Asep, pasir yang tidak rata membuat pergerakan lebih berat. "Kalau di rumput, kontrol bola lebih nyaman karena bola ada di bawah. Kalau di pantai, kita harus bisa menyesuaikan dengan struktur pasir yang bisa berubah saat kita ambil tumpuan," tambahnya.
Bagi Asep, bermain di sepak bola pantai bukan hanya soal teknik, tetapi juga kesiapan menghadapi kondisi yang lebih berat. "Intinya, harus berani berpanas-panasan dan berani capek. Di pasir, lari pun berat, jadi harus siap dengan tantangan itu," tegasnya.
Di Thailand, Indonesia menghadapi lawan-lawan tangguh seperti Iran dan Uni Emirat Arab dan belum mampu melaju ke babak berikutnya. Namun, kemenangan di duel terakhir melawan Afghanistan menjadi bukti bahwa tim ini memiliki potensi. "Meski belum bisa lolos ke fase berikutnya, kami tetap berjuang sampai akhir. Kemenangan ini buat Indonesia," kata Asep.
Ia pun berharap sepak bola pantai di Indonesia bisa lebih berkembang dengan adanya lebih banyak turnamen atau bahkan liga. "Setidaknya ada turnamen nasional yang rutin. Minimal setahun dua sampai tiga kali. Idealnya, setiap provinsi punya satu atau dua klub seperti sepak bola biasa atau futsal," ujarnya.
Sepak bola pantai mungkin belum sepopuler sepak bola rumput atau futsal di Indonesia, tetapi dengan pemain seperti Asep yang tak lelah berjuang, sepak bola pantai Tanah Air berpotensi berkembang lebih besar di masa depan.