NAGOYA, CEKLISSATU -- Capaian Kontingen Indonesia di Asian Para Games 2026 sudah jauh melebihi target. Kini, fokusnya sudah bukan sekadar Nagoya lagi, namun mulai memikirkan kesiapan menuju ASEAN Para Games 2027 di Kuala Lumpur, Malaysia dan Paralimpiade 2028 di Los Angeles, Amerika Serikat.

Kontingen Indonesia berangkat ke Jepang pada 13 Oktober 2026 bermodalkan 103 atlet yang bertarung di 12 cabang olahraga. Kontingen ini dibebani target meraih 7 medali emas, 8 perak dan 17 perunggu.

Target tersebut sudah dikalkulasi berdasarkan performa para atlet dalam masa persiapan menuju Nagoya. Indonesia juga memperhitungkan hilangnya cabor para catur yang tak dipertandingkan di Nagoya, padahal menjadi lumbung medali emas pada edisi 2022 di Hangzhou.

Ternyata, situasi di medan pertandingan berjalan lebih dari ekspektasi. Hingga penutupan perhitungan medali pada hari Jumat (23/10) malam, Indonesia sudah mengumpulkan 14 medali emas, 20 perak dan 37 perunggu. Dua kali lipat dari yang ditargetkan saat keberangkatan.

Chef de Mission (CdM) Kontingen Indonesia, Reda Manthovani, mengapresiasi perjuangan para atlet, pelatih dan ofisial yang telah mencatatkan prestasi gemilang di Nagoya.

"Ini kebanggaan bagi kami dan ini total kami dari hari pertama hingga hari kelima ini mendapatkan 14 emas, 20 perak, 37 perunggu. Artinya sudah melebihi target 100 persen lebih, karena target kami hanya tujuh emas, delapan perak, dan 17 perunggu," kata Reda Manthovani di Headquarter Indonesia, Jumat (23/10) malam

"Terima kasih atas segala dukungan dari warga masyarakat Indonesia, baik yang ada di Indonesia maupun yang ada di Jepang ini, atas doa, restunya, dan segalanya yang telah disupport kepada kami," lanjutnya.

Kontingen Indonesia bukan sekadar sukses dari capaian medali. Bila melirik nama-nama yang memperoleh medali, ada banyak atlet muda atau debutan yang mencatatkan prestasi level Asia, bahkan dunia.

Atlet asal Bali, I Kadek Dwi Purwana Yasa, meraih emas lempar cakram F57 dengan lemparan terjauh di dunia, alias mempertajam catatan dunianya di kelas F57 dengan jarak 49,75 meter. Ia baru berusia 18 tahun.

Kemudian, ada atlet para renang asal Kabupaten Kampar, Abdil Majid Rahman, yang berhasil meraih medali emas di usia yang baru 17 tahun. Selain itu masih banyak nama muda lain atau debutan Asian Para Games yang meraih medali perak atau perunggu.

Reda menilai atlet-atlet muda, termasuk para peraih medali perlu diwadahi dalam proyek pemusatan latihan nasional (Pelatnas) jangka panjang. Selain untuk mengontrol konsistensi dalam berprogres, sudah ada dua event besar di depan mata, ASEAN Para Games 2027 dan Paralimpiade 2028.

"Makanya kami ingin mendorong nih pemerintah khususnya Kemenpora lebih memperpanjang Pelatnas. Makanya, itu menjadi salah satu cara agar si atlet-atlet ini bisa tetap konsisten," tutur Reda.

"Saya melihat, kenapa banyak atlet yang enggak dapet medali ataupun medalinya perunggu (di Nagoya), karena rata-rata tuh permasalahan fisik. Untuk Asian Para Games ini aja, pemerintah melalui Kemenpora hanya memberikan jatah Pelatnas tiga bulan. Itu sebenarnya kurang cukup. Makanya diperlukan ya paling minimal tuh enam bulan. Terlebih kenapa? terlebih di tahun depan ada yang namanya ASEAN Para Games di Malaysia dan tahun 2028 itu ada Paralimpiade di Los Angeles," lanjut Reda.

Sementara itu, apresiasi datang dari atlet para renang senior, Jendi Pangabean. Ketika dirinya harus puas dengan raihan satu medali perak di Nagoya, para renang meraih tiga emas dari para atlet muda, yakni Abdil Majid dan Maulana Rifky Yavianda.

"Ini membuktikan adanya regenerasi di para renang. Saya harap kedepannya makin banyak atlet-atlet muda, karena saya juga menyadari sudah senior atau sudah berumur. Jadi, saya sangat senang dengan atlet-atlet baru, seperti Majid, Cantik, dan Rifky juga luar biasa, serta yang lain-lainnya," ucap Jendi.

Jendi pun ingin agar para atlet bisa menjaga disiplin dalam latihan, serta tidak cepat berpuas diri. Disiplin menjadi kunci sukses atlet untuk konsisten dalam berprestasi.

"Dengan prestasi yang sudah diraih hari ini, ada level yang lebih tinggi lagi tentunya (untuk dikejar). Saya berharap mereka tetap bisa menjaga kondisi, konsisten. Kita juga bareng di Pelatnas, jadi kita bisa saling mengingatkan," ujar peraih medali emas Asian Para Games 2018 dan 2022 ini.

Asian Para Games 2026 rencananya akan ditutup lewat upacara penutupan di Stadion Paloma Mizuho, Nagoya, Sabtu (24/10). Sebelum itu, Indonesia masih berpeluang menambah medali lewat cabor boccia, para panahan dan para angkat berat.