NAGOYA, CEKLISSATU – Atlet para atletik, Jaenal Aripin melaju di atas kursi rodanya sambil membawa bendera Merah Putih saat memimpin kontingen Indonesia memasuki Stadion Paloma Mizuho, Nagoya, Jepang, pada upacara pembukaan Asian Para Games 2026, Minggu (18/10/2026) malam.
Di belakangnya, rombongan atlet dan ofisial tampil elegan dalam balutan seragam defile rancangan desainer Ivan Gunawan bertajuk “Sekar Jagat Vijaya”.
Total ada 47 atlet dan ofisial yang turun langsung dalam defile, menyapa ribuan penonton yang memadati stadion kebanggaan Nagoya ini.
Seusai upacara pembukaan, atlet kebanggaan Indonesia ini tak bisa menyembunyikan rasa harunya.
“Jujur, ini saya merinding banget dikasih tugas untuk membawa bendera. Ini satu kehormatan dan kebanggaan untuk saya pribadi,” ujar Jaenal Aripin seusai acara.
Menurut Jaenal, beban yang dia rasakan malam ini jauh lebih besar dari sekadar bendera di tangannya.
“Bukan karena beratnya fisik bendera yang saya bawa, tetapi ini membawa negara Indonesia, negara tercinta saya, di pembukaan Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026,” tuturnya.
Dia pun mengaku terkesan dengan sambutan penonton di stadion selama upacara pembukaan. Indonesia menjadi salah satu negara yang mendapatkan tepuk tangan yang cukup keras dalam defile ini.
“Penontonnya keren banget, antusias. Semangat positif yang mereka berikan kepada kami, tim, serta kontingen lain itu sangat berarti banget untuk memacu semangat kami bertanding,” imbuhnya.
Rangkaian pertunjukan seni dalam upacara pembukaan pun meninggalkan kesan mendalam baginya.
“Penampilan penari-penarinya sangat kental dengan kultur dan budaya Jepang, sehingga sangat terasa dan sangat sakral. Overall, semua keren banget. Pembukaannya amazing,” ungkap Jaenal.
Rombongan yang mengikuti defile kali ini terdiri atas atlet, pelatih, dan ofisial dari para atletik, panahan, bulu tangkis, boccia, judo, angkat berat, menembak, renang, dan anggar kursi roda, bersama jajaran kepengurusan National Paralympic Committee of Indonesia (NPC Indonesia) dan tim Chef de Mission (CdM). Barisan didampingi Ketua Umum NPC Indonesia, Senny Marbun dan CdM Kontingen Indonesia, Reda Manthovani.
CdM Kontingen Indonesia Reda Manthovani menilai suasana upacara pembukaan berlangsung luar biasa. Menurutnya, semangat para atlet sudah terasa sejak mereka mengantre sebelum memasuki stadion.
“Ini luar biasa, ya. Nuansa semangat dari para atlet sudah kita lihat dari antrean di luar gedung olahraga. Bahkan masuk ke gedung olahraga itu, semua peserta sangat riang gembira dan menyanyikan lagu nasional masing-masing,” kata Reda.
Dia juga mengapresiasi keseriusan Jepang sebagai tuan rumah. Menurutnya, antusiasme itu tidak hanya terlihat di stadion, tetapi juga di berbagai sudut kota. Bendera dari negara-negara peserta, termasuk Indonesia berjejeran di pusat keramaian Nagoya.
“Tuan rumah sangat antusias menyambut Asian Para Games ini. Bukan cuma di acara pembukaan saja. Di tempat-tempat wisata mereka disediakan booth untuk para atlet yang ingin berwisata di Nagoya. Mereka memberikan fasilitas kemudahan-kemudahan. Begitu juga di transportasi umum, semua ada iklan-iklan tentang Asian Para Games. Ini menjadi perhatian banget dari pemerintah Jepang,” tuturnya.
Soal kondisi atlet, Reda mengakui rasa lelah usai defile tak terhindarkan. Namun, hal itu sudah diantisipasi sejak awal.
“Ya, sudah capek, ya. Cuma kan sudah kita antisipasi. Yang ikut defile ini yang besok tidak akan bertanding, atau yang bertanding pun sore hari. Segera kita kembali ke penginapan masing-masing, istirahat, persiapan untuk pertandingan besok,” jelasnya.
Barisan kontingen Merah Putih malam itu mengenakan seragam yang memadukan jaket biru tua bermotif batik dengan aksen putih, celana abu-abu, dan ikat kepala bermotif batik. Ivan Gunawan merancangnya secara menyeluruh, mulai dari baju, jaket, hingga sepatu.
Reda menyebut seragam ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kontingen.
“Baju ini jadi kebanggaan kita, karena baju daerah yang langsung dibuat oleh tangan desainer Indonesia, yaitu Kak Igun,” ujarnya.
Desain ini terinspirasi motif Batik Sekar Jagat. Ivan pun menjelaskan maknanya.
“Sekar Jagat melambangkan keindahan dalam keberagaman, sementara Vijaya bermakna kemenangan. Sebuah filosofi tentang keberanian untuk melangkah, kekuatan untuk berjuang, dan semangat untuk terus melampaui batas,” kata Ivan.
Bagi Ivan, seragam ini membawa pesan yang lebih dalam bagi para atlet disabilitas.
“Saya ingin setiap detail karya ini menjadi simbol bahwa keterbatasan bukanlah batas untuk bermimpi, berkarya, dan mengukir prestasi,” ungkapnya.
Ivan juga hadir di tengah para atlet dan ikut defile. Ia mengaku bangga melihat identitas Indonesia menonjol di antara kontingen negara lain.
“Tadi kita stand by di ruang tunggu cukup lama, bisa ketemu bareng atlet-atlet dari negara lain. Dan saya melihat desain kita itu unik, berbeda. Sporty-nya dapat, Indonesia-nya juga dapat. Dan Masya Allah, tadi saat berjalan, warna kita juga keluar,” ujar Ivan.
Ia juga senang melihat antusiasme atlet dan masyarakat. Tak sedikit para diaspora Indonesia yang bermukim di Nagoya dan sekitarnya ikut hadir di Stadion Paloma Mizuho.
“Atlet-atlet kita antusias mengenakan kostum ini. Dan kalau kita lihat di media sosial, aku bersyukur banget, ternyata masyarakat Indonesia juga antusias, ikut repost, ikut posting. Itu yang membuat kita happy banget,” tuturnya.
“Ada rasa haru dan bangga yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, ketika hari ini saya bisa berada di tengah-tengah para atlet kebanggaan Indonesia, menyaksikan mereka bersiap melangkah dalam defile Asian Para Games dengan mengenakan seragam hasil rancangan saya,” beber dia.
“Bagi saya, ini bukan sekadar tentang sebuah desain. Ini adalah tentang membawa identitas, budaya, dan kebanggaan Indonesia ke panggung internasional,” lanjut Ivan.
Dia berharap setiap detail seragam membuat para atlet bisa melangkah dengan penuh percaya diri dan membawa semangat perjuangan.
“Setiap langkah adalah cerita tentang perjuangan. Setiap tatapan adalah bukti ketangguhan. Dan setiap kibaran Merah Putih adalah kebanggaan yang tak ternilai,” tulisnya melalui akun Instagram-nya.
Secara keseluruhan, Indonesia mengirimkan 103 atlet ke Asian Para Games 2026. Indonesia menjadi satu dari 45 kontingen yang ambil bagian dalam Asian Para Games ke-5 ini.
Defile malam itu menghadirkan warna-warni khas Asia. Sebagian kontingen tampil dengan jersey tim, sementara yang lain mengenakan busana khas negaranya. Jepang, sebagai tuan rumah, muncul paling akhir dan disambut sorakan paling meriah.
China menurunkan kontingen terbesar, dengan sekitar 500 anggota delegasi termasuk 312 atlet. Sementara itu, Brunei Darussalam hadir sebagai salah satu kontingen terkecil dengan 6 atlet.
Sekitar 4.000 peserta akan bertanding di 18 cabang olahraga yang tersebar di 18 venue di Nagoya dan Prefektur Aichi hingga 24 Oktober 2026, serta satu venue di Prefektur Shizuoka.
Seusai pembukaan, CdM Reda Manthovani menitipkan pesan kepada seluruh atlet Indonesia.
“Tetap semangat. Walaupun kita sudah parade, ini adalah pembukaan, esok kita harus bertanding, bertanding, dan bertanding. Perjuangkan semaksimal mungkin, dan jangan lupa bahagia, apa pun hasilnya,” pungkas Reda.
—END—