JAKARTA, CEKLISSATU  -- PSSI memperkenalkan John Herdman sebagai pelatih baru Timnas Indonesia pada Sabtu (3/1) kemarin. Sosok pelatih asal Inggris itu datang dengan reputasi bukan hanya sebagai perancang taktik, tetapi sebagai pembangun kultur atau budaya tim, khususnya melalui pendekatan ‘brotherhood’ alias persaudaraan di dalam ruang ganti.

Rekam jejak Herdman di Timnas Kanada, baik putra dan putri, menunjukkan perubahan yang dilakukan tidak berawal dari papan taktik, melainkan pembenahan mental, ego, dan dinamika ruang ganti. Di bawah kepemimpinannya, Kanada dikenal memiliki kohesi yang kuat, rasa saling percaya, dan identitas kolektif yang solid termasuk penguatan di akar rumput.

Mantan pemain dan anggota Timnas Kanada menjadi saksi perubahan tersebut. Jason deVos, eks pemain Timnas Kanada yang pernah bekerja bersama Herdman, menyebut pendekatan sang pelatih berakar pada pembinaan karakter jangka panjang.

“Dukungan John Herdman terhadap prinsip pengembangan pemain jangka panjang, termasuk penggunaan aktivitas latihan dan format permainan yang sesuai dengan usia dan tahap perkembangan pemain, menegaskan jalur menuju level elite dalam sepak bola dimulai dari akar rumput,” katanya, seperti dikutip dari Canada Soccer.

“Pendekatan itu sejalan dengan prinsipnya yang berfokus pada pengajaran dasar-dasar permainan kepada pemain muda, sehingga memberi mereka peluang terbaik untuk mencapai level elite sepak bola,” ia menambahkan.

Dampak Herdman bahkan dirasakan pada level personal. Rhian Wilkinson, mantan pemain Timnas Putri Kanada, menyebut pengaruh Herdman tidak hanya terjadi di lapangan.

“John Herdman telah memengaruhi kami semua dalam cara yang sangat besar dan hanya sebagian kecil dari itu yang sebenarnya berkaitan langsung dengan sepak bola. Kedengarannya mungkin berlebihan, tapi ia mungkin telah mengubah saya sebagai pribadi, padahal saya baru mengenalnya ketika berusia 29 tahun,” ujar Wilkinson.

Bagi Diana Matheson, mantan pemain Timnas Putri Kanada, keberhasilan Herdman tidak semata diukur dari hasil pertandingan, tetapi dari cara tim mencapai tujuan bersama.

“Di tim John Herdman yang penting bukan hanya hasil akhirnya, tetapi bagaimana kita memilih mencapainya. Gaya bermain itu penting, dengan siapa kita melakukannya juga penting, tetapi lebih penting lagi kami menjadi orang Kanada yang baik dalam skuad nasional,” ujarnya.

Konsep persaudaraan yang dibangun Herdman tercermin pada kedisiplinan emosional dan rasa tanggung jawab antarpemain. Junior Hoilett, eks penggawa Timnas Putra Kanada, menggambarkannya sebagai kultur persaudaraan tanpa ego pribadi.

“Apa yang dibangun John Herdman di sini adalah budaya persaudaraan yang nyata, tanpa agenda pribadi. Semua orang berada di jalur yang sama dan tahu mengapa mereka berada di sini untuk tim nasional,” tutur Hoilett.

Herdman sendiri menegaskan keberhasilan suatu tim berangkat dari fondasi kultur dan sistem yang kuat.

“Saat kami membangun kembali program Timnas Putri Kanada itu semuanya dari nol. Dimulai dengan membangun sistem high-performance, pengembangan talenta, dan menghadirkan orang-orang yang tepat,” ujar Herdman.

Pendekatan tersebut dinilai relevan dengan situasi Timnas Indonesia yang menginginkan energi dan budaya baru dalam skuad Garuda. PSSI berharap, pengalaman Herdman dalam membangun struktur psikologis dan kebersamaan tim mampu menghadirkan perubahan serupa.

Di tangan Herdman, proyek Timnas Indonesia tidak hanya diarahkan pada hasil teknis di lapangan, tetapi juga pada pembentukan identitas tim. Dengan begitu pemain bukan sekadar tampil bersama, melainkan bermain sebagai satu kesatuan yang utuh.