BANDUNG, CEKLISSATU.COM - Si Geulis Bandung tidak sekadar mengubah pencatatan obat dari manual ke digital.
Inovasi digital Si Geulis dirancang untuk memperkuat tata kelola obat agar lebih terintegrasi, akurat, cepat, transparan, dan berbasis data.
Peluncuran Si Geulis berlangsung di Aula Bawah Dinas Kesehatan Kota Bandung.
Aplikasi tersebut dikembangkan sebagai respons atas sejumlah tantangan dalam pengelolaan obat, mulai dari data yang masih tersebar, proses rekapitulasi yang membutuhkan waktu, hingga belum optimalnya pemanfaatan data sebagai dasar pengambilan keputusan.
Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan Dinkes Kota Bandung sekaligus Project Leader Si Geulis, Detty Kurnia mengatakan, aplikasi tersebut dikembangkan untuk mengintegrasikan data dan proses pengelolaan obat secara lebih menyeluruh.
"Si Geulis diharapkan tidak hanya mengubah pencatatan manual menjadi digital, tetapi juga mendorong perubahan budaya kerja. Dari data yang tersebar menjadi terintegrasi, dari reaktif menjadi preventif, dari asumsi menjadi berbasis data, dan dari bekerja secara parsial menjadi kolaboratif," ujar Detty dikutip Jumat (9/10/2026).
Baca Juga: Super Flu Terdeteksi di Jawa Barat, Dinkes Kabupaten Bogor Masih Tunggu Kejelasan Data
Si Geulis mencakup sejumlah proses penting dalam pengelolaan obat, di antaranya perencanaan kebutuhan, pemantauan stok dan transaksi, pengendalian obat kedaluwarsa, hingga penguatan pengawasan terhadap obat sensitif, termasuk psikotropika.
Sistem ini juga dilengkapi dashboard yang dapat digunakan untuk monitoring, evaluasi, dan mendukung pengambilan keputusan.
Menurut Detty, pengembangan aplikasi telah melalui sejumlah tahapan, mulai dari identifikasi kebutuhan data dan proses bisnis, penyusunan program, pengembangan serta uji coba sistem, penyempurnaan aplikasi, sosialisasi, hingga pendampingan kepada pengguna.
Pengembangan Si Geulis juga melibatkan kolaborasi berbagai pihak, baik di lingkungan internal Dinkes maupun jejaring eksternal.
Di antaranya Puskesmas, pengelola obat, unsur teknologi informasi, mitra apotek, pedagang besar farmasi (PBF), perguruan tinggi, organisasi profesi, dan pemangku kepentingan lainnya.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Bandung, Ira Dewi Jani yang hadir mewakili Kepala Dinkes Kota Bandung menyampaikan, pengelolaan obat merupakan bagian penting dalam mendukung mutu pelayanan kesehatan masyarakat.
Baca Juga: Akui Banyak yang Harus Diperbaiki, BPOM Salahkan Industri Farmasi
Ia mengatakan, penyediaan dan pengelolaan obat menghadapi tantangan yang semakin kompleks, mulai dari perencanaan kebutuhan, pengelolaan stok, pencatatan dan pelaporan, pengendalian obat kedaluwarsa, hingga pengawasan terhadap obat yang memerlukan penanganan khusus.
Kondisi tersebut menuntut adanya perbaikan tata kelola yang didukung pemanfaatan teknologi.
Ira menuturkan, Si Geulis tidak semata-mata diarahkan untuk mendigitalisasi pencatatan.
Baca Juga: IDI Jabar Terjun Ke Tengah-tengah Masyarakat Lakukan Pengobatan Gratis
Lebih jauh, aplikasi tersebut diharapkan mendorong perubahan proses bisnis, khususnya dalam perencanaan kebutuhan obat agar semakin berbasis data.
"Si Geulis bisa menjadi instrumen untuk mengintegrasikan data dan proses pengelolaan obat sehingga informasi dapat diperoleh secara lebih cepat, akurat, dan mudah dikelola," harapnya.
Dalam perencanaan kebutuhan obat, pemanfaatan data menjadi salah satu aspek penting yang didorong melalui sistem tersebut. Informasi mengenai kondisi stok, data penyakit, dan data epidemiologi diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyesuaikan kebutuhan obat.
Baca Juga: Polres Bogor Bongkar 113 Kasus Narkoba, 155 Pelaku Peredaran dan Penyalahgunaan Narkotika Diamankan
Selain itu, sistem terintegrasi tersebut diharapkan membantu proses monitoring dan pengendalian sehingga potensi persoalan dapat diketahui lebih awal.
Di antaranya ketidaksesuaian stok, risiko obat kedaluwarsa, keterlambatan pelaporan, maupun kondisi lain yang membutuhkan tindak lanjut secara cepat.
Ira menuturkan, keberhasilan implementasi Si Geulis tidak hanya ditentukan oleh teknologi yang digunakan.
"Harapan kami Si Geulis dapat menjadi bagian dari budaya kerja di lingkungan Dinas Kesehatan Kota Bandung, yaitu budaya kerja yang berbasis data terintegrasi, kolaboratif, adaptif terhadap teknologi serta berorientasi kepada hasil dan pelayanan masyarakat," ujar Ira.