BOGOR, CEKLISSATU - Inflasi di Indonesia menunjukkan tren menurun dalam beberapa bulan terakhir, namun masyarakat masih merasakan tekanan harga yang tak kunjung reda akibat harga tukar rupiah yang menurun. Fenomena inilah yang disebut sebagai bias inflasi, dimana kesenjangan antara data makro ekonomi dan realitas yang dirasakan langsung oleh pelaku rumah tangga serta pelaku bisnis. Menghadapi kondisi ini, pemerintah, Bank Indonesia (BI), dan masyarakat dituntut untuk tidak hanya membaca angka statistik, tetapi juga menyusun strategi adaptif dan fleksibel agar daya beli dan stabilitas ekonomi tetap terjaga.
Bias inflasi muncul ketika persepsi masyarakat terhadap kenaikan harga bahan baku atau bahan jadi lebih tinggi dibandingkan laju inflasi yang diumumkan secara resmi oleh pemerintah. Di Indonesia, hal ini sering disebabkan oleh komoditas yang dominan momorebel pada masayarakat biasanya disebut bahan pokok. Seperti produk pangan dan energi bumi. Selain itu ditekan pula oleh laju ferkuensi belanja harian, di mana masyarakat lebih sering terpapar kenaikan harga barang kebutuhan pokok dibandingkan barang tahan lama yang harganya cenderung stabil.
Fleksibilitas masyarakat tetap akan bisa terkendali untuk menekan laju kenaikan bahan baku yang semakin tidam terkontrol jika pemetaan stragtegi kebutuhan gencar dilakukan. Seperti belanja berdasarkan daftar kebutuhan, manfaatkan program pasar murah atau marketplace yang menawarkan promo kebutuhan pokok, serta ubah pola konsumsi dengan mencari substitusi bahan pangan yang lebih stabil harganya dan bagi para pelaku bisnis tanpa terkecuali, salah satunya mengalihkan sebagian bahan baku ke pemasok domestik untuk mengurangi biaya logistik sehingga penyesuaian harga secara bertahap dengan tetap menjaga kualitas produk tetap bisa dioprasionalkan. Dan yang tidak kalah kurusial adalah, membangun literasi belanja yang bijak agak tidak mudah terpapar arus bias inflasi di sosial media.
Baca Juga: Inflasi Jakarta Desember 2025 Tercatat 0,33 Persen, BPS Ungkap Pemicu Utamanya
Menghadapi bias inflasi membutuhkan pendekatan dua sisi diantaranya kebijakan yang responsif dari pemerintah serta kecerdasan finansial dari masyarakat. Di sisi lain, transparansi data dan pengendalian harga di tingkat lapangan harus terus ditingkatkan agar kesenjangan antara persepsi dan realitas perlahan menyempit.
Ade Pramitha