BOGOR, CEKLISSATU - Kesulitan mengingat materi pelajaran masih menjadi tantangan bagi banyak pelajar dan mahasiswa. Tidak sedikit yang memilih belajar dalam waktu lama menjelang ujian, tetapi tetap kesulitan mengingat informasi saat dibutuhkan. Padahal, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan belajar lebih dipengaruhi oleh metode yang digunakan dibandingkan lamanya waktu belajar.
Hasil tinjauan yang diterbitkan dalam Nature Reviews Psychology menyebutkan bahwa strategi belajar berbasis retrieval practice (mengingat kembali materi) dan spaced repetition (pengulangan berselang waktu) merupakan dua metode yang secara konsisten terbukti meningkatkan retensi memori jangka panjang. Sayangnya, kedua teknik tersebut masih belum banyak diterapkan oleh pelajar dibandingkan kebiasaan membaca ulang atau menandai buku dengan stabilo. Berikut tiga teknik belajar yang direkomendasikan berdasarkan hasil penelitian.
1. Active Recall
Active recall merupakan teknik belajar yang dilakukan dengan mengingat kembali materi tanpa melihat buku atau catatan. Dalam praktiknya, pelajar dapat menguji dirinya sendiri melalui pertanyaan, membuat rangkuman dari ingatan, atau menjelaskan materi menggunakan bahasa sendiri.
Baca Juga: Mengenal Digital Eye Strain di Era Serba Digital
Sebagai contoh, setelah mempelajari materi sejarah, siswa dapat menutup buku dan mencoba menjelaskan penyebab terjadinya suatu peristiwa sebelum mencocokkannya kembali dengan catatan. Menurut Carnegie Mellon University, proses mengambil kembali informasi dari memori membantu memperkuat jalur ingatan sehingga materi lebih mudah diingat dalam jangka panjang dibandingkan hanya membaca ulang.
2. Spaced Repetition
Spaced repetition atau pengulangan berselang waktu dilakukan dengan meninjau kembali materi secara berkala dalam interval tertentu, misalnya sehari setelah belajar, kemudian tiga hari, satu minggu, hingga beberapa minggu berikutnya. Berbeda dengan sistem belajar semalam sebelum ujian (cramming), metode ini memberi kesempatan kepada otak untuk memperkuat memori secara bertahap. Tinjauan ilmiah yang dipublikasikan Nature Reviews Psychology menyimpulkan bahwa pengulangan yang diberi jeda waktu mampu meningkatkan daya ingat pada berbagai kelompok usia dan bidang pembelajaran.
3. Teknik Feynman
Teknik Feynman diperkenalkan oleh fisikawan peraih Nobel, Richard Feynman, sebagai cara untuk menguji pemahaman terhadap suatu konsep. Teknik ini dilakukan dengan menjelaskan materi menggunakan bahasa yang sederhana, seolah-olah sedang mengajarkannya kepada orang lain yang belum memahami topik tersebut. Misalnya, setelah mempelajari fotosintesis, pelajar dapat mencoba menjelaskan proses tersebut tanpa menggunakan istilah ilmiah yang rumit. Jika masih kesulitan menyampaikan penjelasan secara sederhana, berarti pemahaman terhadap materi tersebut masih perlu diperdalam. Para peneliti menyebut teknik ini efektif karena mendorong pemahaman konsep, bukan sekadar menghafal informasi.