BOGOR, CEKLISSATU – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bogor resmi menetapkan sebanyak 620 calon siswa Sekolah Rakyat (SR) untuk tahun ajaran 2026/2027. Seluruh peserta merupakan hasil penjangkauan keluarga miskin ekstrem yang masuk kategori desil 1 dan desil 2, bukan melalui mekanisme pendaftaran umum.
Kepala Bidang Penanganan Fakir Miskin Daerah Dinsos Kabupaten Bogor, Adri Prasista, mengatakan penetapan dilakukan melalui rapat pleno bersama berbagai pihak setelah proses verifikasi lapangan oleh pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), TKSK, pekerja sosial, serta ASN dari Sentra Kementerian Sosial.
"Yang kita tetapkan hari ini adalah calon siswa Sekolah Rakyat. Mereka merupakan hasil penjangkauan langsung ke keluarga yang benar-benar membutuhkan, yaitu desil 1 dan desil 2," ujar Adri.
Ia menjelaskan, Kabupaten Bogor mendapat kuota 270 siswa untuk Sekolah Rakyat permanen di Jasinga, terdiri dari 30 siswa SD, 120 siswa SMP, dan 120 siswa SMA.
Baca Juga: Sekolah Rakyat Sempurnakan Akses Pendidikan Jakarta, Fahira Idris Sampaikan Lima Dampak Besarnya
Selain itu, Kementerian Sosial juga memberikan tambahan empat Sekolah Rakyat rintisan dengan total kuota 350 siswa, yakni di Tagana Center Hambalang sebanyak 100 siswa (50 SMP dan 50 SMA), BNN Lido sebanyak 50 siswa (25 SMP dan 25 SMA), Pusbangkom Kementerian Perhubungan Kemang sebanyak 100 siswa (50 SMP dan 50 SMA), serta Perpustakaan Digital Kota Bogor, Tanah Sareal sebanyak 100 siswa (50 SMP dan 50 SMA).
"Total kuota yang kita tetapkan hari ini mencapai 620 calon siswa," katanya.
Adri menegaskan, calon siswa tidak mendaftar sendiri, melainkan dijemput melalui proses penjangkauan. Pendamping PKH mendatangi langsung keluarga calon peserta untuk memastikan kesediaan mereka mengikuti pendidikan berasrama.
"Sistemnya seperti boarding school atau pesantren. Anak-anak akan tinggal di sekolah dan seluruh kebutuhan mereka ditanggung pemerintah, mulai dari seragam, perlengkapan sekolah hingga tempat tinggal," jelasnya.
Menurutnya, Sekolah Rakyat tidak hanya memberikan pendidikan formal, tetapi juga pembinaan karakter dan pelatihan keterampilan. Kurikulum yang diterapkan tetap mengikuti kurikulum nasional, namun dilengkapi berbagai kegiatan pengembangan kemampuan, laboratorium yang memadai, serta beragam kegiatan ekstrakurikuler.
Untuk Sekolah Rakyat permanen di Jasinga, pembangunan fisik saat ini telah mencapai sekitar 90 persen. Pemerintah menargetkan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dapat dimulai pada akhir Juli 2026, sedangkan empat Sekolah Rakyat rintisan ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan Agustus 2026.
Sementara itu, proses rekrutmen guru oleh Kementerian Sosial masih berlangsung dan diperkirakan rampung pada September 2026. Selama masa transisi, Pemerintah Kabupaten Bogor akan menyiapkan guru bantuan atau guru tamu agar proses belajar mengajar tetap berjalan.
Baca Juga: Kemensos Tinjau Lokasi Pembangunan Sekolah Rakyat di Rancamaya Bogor, Tahun Ini Rampung
Adri juga mengungkapkan, dua Sekolah Rakyat rintisan yang telah lebih dulu beroperasi di Suweno dan Galih Pakuan Ciseeng nantinya akan dipindahkan ke kompleks Sekolah Rakyat permanen di Jasinga setelah pembangunan selesai. Bahkan, empat Sekolah Rakyat rintisan yang baru dibentuk juga direncanakan akan dipusatkan di Jasinga pada tahun depan.
"Harapannya, seluruh Sekolah Rakyat nantinya terpusat di Jasinga sebagai kampus permanen. Dengan program ini, anak-anak dari keluarga miskin ekstrem memiliki kesempatan memperoleh pendidikan berkualitas sekaligus pembinaan karakter untuk memutus rantai kemiskinan," pungkasnya.