BOGOR, CEKLISSATU - Yayasan Lembaga Kajian Strategis (LEKAS) terus fokus dalam menangani HIV/AIDS di Kabupaten Bogor.
Untuk mencegah penyebaran di kalangan remaja, LEKAS membentuk Kelompok Remaja Peduli HIV/AIDS, dan terpilih enam remaja duta Peduli HIV/AIDS, di Kampus Universitas Djuanda (Unida) Bogor, Sabtu (26/7/2025).
Ketua LEKAS, Muksin menyampaikan, bahwa melalui pembentukan kelompok remaja dan duta remaja peduli HIV/AIDS, diharapkan para remaja menjadi jembatan dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Bogor.
"Sebagian besar pelajar yang hadir sudah menyadari bahaya laten virus HIV/AIDS, dan mereka sudah memahami gejala-gejala atau indikasi seseorang yang rentan terkena virus HIV,” ujarnya.
Muksin menjelaskan, saat ini Kabupaten Bogor menghadapi tantangan serius dalam penanggulangan HIV/AIDS.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan, hingga akhir 2024 tercatat sebanyak 814 kasus HIV/AIDS.
Baca Juga: Cegah Penyebaran HIV/AIDS di Bogor, Dinkes Ajak Lekas bersama FWBS Lakukan Ini
Itu menempatkan Kabupaten Bogor sebagai kota nomor 2 tertinggi di Jawa Barat sebagai kota dengan kasus HIV/AIDS.
Angka ini menunjukkan tren peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, di mana pada 2023 tercatat 794 kasus dan pada 2022 sebanyak 746 kasus.
Tren kasus itu meningkat pda kelompo usia remaja.
Data triwulan pertama tahun 2025 menunjukkan bahwa dari total kasus HIV yang tercatat, sebanyak 216 kasus berasal dari kelompok usia muda, dengan sebagian besar berada di rentang usia 15–24 tahun. Secara nasional, kelompok usia ini juga menjadi perhatian utama.
Peningkatan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk minimnya pengetahuan tentang HIV/AIDS, perilaku seksual berisiko, dan akses informasi serta layanan kesehatan yang belum optimal di kalangan remaja.
Sebagian besar remaja masih memiliki pemahaman keliru tentang cara penularan dan pencegahan HIV.
Kondisi ini menunjukkan bahwa remaja merupakan kelompok rentan terhadap penularan HIV.
"Di sisi lain, mereka juga merupakan agen perubahan potensial jika diberikan bekal pengetahuan dan keterampilan yang tepat. Untuk itu, pendekatan berbasis edukasi teman sebaya dan pelibatan aktif remaja dalam kampanye pencegahan HIV/AIDS menjadi sangat penting," jelasnya.
Baca Juga: HIV/AIDS di Jabar Tinggi, KPA-nya Malah Dibekukan
"Melalui Diklat Pembentukan Remaja Peduli HIV/AIDS, diharapkan akan terbentuk kelompok remaja yang tidak hanya memahami isu HIV/AIDS, tetapi juga mampu menjadi penyampai informasi yang efektif di lingkungan sekolah dan komunitasnya," imbuh Muksin.