BOGOR, CEKLISSATU.COM – Puluhan jurnalis kompak mengenakan kaus bertuliskan Bukan Wartawan Pendopo sebagai bentuk kritik sosial dan seruan untuk memperkuat pemberantasan korupsi di Kabupaten Bogor

Aksi menggunakan kaos Bukan Wartawan Pendopo tersebut sekaligus menjadi pesan tegas jurnalis untuk menjaga independensi serta menjalankan tugas jurnalistik sesuai kode etik dan Undang-Undang Pers.

Bukan Wartawan Pendopo itu berawal dari keprihatianan para jurnalis di wilayah Bogor yang merasa prihatin dengan maraknya kasus korupsi yang selalu terjadi setiap kali berganti bupati dan wakil bupati.

Baca Juga: Lilin Harapan Menyala di Bogor, Doa Dipanjatkan untuk 5 Jurnalis yang Hilang di Selat Sunda

“Kami merasa sangat miris dan prihatin, setiap kali berganti Kepala Daerah, kasus korupsi selalu terjadi di Kabupaten Bogor. Kami sebagai bagian dari warga Kabupaten Bogor merasa peduli dan tergerak agar semua bentuk perilaku koruptif khususnya di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bogor hilang. Karena korupsi sangat berdampak buruk terhadap kesejahteraan masyarakat maupun insan pers,” ungkap Abeng, salah satu wartawan penggagas, Senin (21/9/2026).

Sementara itu, Ketua Bogor Timir Jurnalis, Dady menegaskan, bahwa aksi dengan kaos Bukan Wartawan Pendopo yang dilakukan puluhan jurnalis ini tidak ada kaitan politis. 

“Ini murni gerakan peduli wartawan di Bogor. Tidak ada untuk menyerang personal siapapun. Kepala daerah beserta jajarannya harus bersih dari korupsi,” tegasnya.

Baca Juga: KPK Geledah Kantor Summarecon, Jejak Kasus Dugaan Korupsi HGB Kementerian ATR/BPN Terus Ditelusuri

Selanjutnya, Ketua Forum Wartawan Bogor Selatan, Acep Mulyana, mengatakan, insan pers sebagai pilar keempat demokrasi memiliki peran yang sangat strategis terhadap maju mundurnya bangsa dan negara. 

“Oleh karenanya melalui aksi ‘Bukan Wartawan Pendopo’ ini kami ingin menyampaikan pesan agar para wartawan kembali ke marwah dan tetap bekerja sesuai kode etik dan Undang-Undang Pers sehingga tetap menjaga independensi, good news is good news, bad news is bad news,” tutup Acep.