KABUPATEN BOGOR, CEKLISSATU.COM – Dengan tekad yang tak tergoyahkan, 15 pemuda asal Desa Sukamulya, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, memulai perjalanan kaki menuju Gedung Sate Bandung.
Aksi ini bukan sekadar unjuk rasa, melainkan seruan mendesak kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi untuk turun tangan menyelesaikan konflik agraria yang telah menjerat desa mereka selama bertahun-tahun.
Aksi long march yang dimulai pada Rabu (09/07/2025) kemarin, di mana itu menjadi simbol perjuangan masyarakat desa yang merasa terpinggirkan dalam sengketa tanah seluas kurang lebih 1.000 hektare.
Lahan yang telah dikelola warga secara turun-temurun kini terancam akibat klaim sepihak yang memicu ketidakpastian hukum.
Baca Juga: Bupati Bogor Rudy Susmanto Terima Audiensi Himpunan Mahasiswa Rumpin, Ini yang Dibahas
“Kami berangkat bukan untuk membuat keributan. Kami hanya ingin suara kami didengar langsung oleh Pak Gubernur. Ini tentang tanah kami, tentang masa depan kampung kami,” ungkap Kepala Desa Sukamulya, Ihwan Nur Arifin, yang turut melepas keberangkatan para pemuda di kantor desa.
Menurut Ihwan, selama bertahun-tahun warga Desa Sukamulya bergulat dengan konflik lahan yang tak pernah menemukan titik terang.
Mereka telah menempuh berbagai jalur mediasi, namun hingga kini belum ada solusi konkret dari pemerintah provinsi.
Aksi damai ini juga mendapat dukungan penuh dari pemerintah desa dan tokoh masyarakat.
Selain sebagai bentuk perlawanan atas ketidakadilan, long march ini juga dimaknai sebagai ikhtiar kolektif yang mengedepankan dialog dan partisipasi warga dalam mencari keadilan.
“Ini bukan sekadar aksi simbolik. Anak-anak muda ini membawa dokumen, membawa harapan, dan membawa suara warga yang lelah menunggu kejelasan,” ujar Ihwan.
Para peserta long march telah mempersiapkan diri sejak beberapa pekan terakhir. Mereka berbekal logistik secukupnya serta materi audiensi yang akan disampaikan jika berhasil bertemu Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
“Kami hanya ingin pemerintah hadir di tengah rakyatnya. Jangan sampai persoalan ini dibiarkan berlarut-larut, karena dampaknya nyata terhadap kehidupan warga,” tambah Ihwan.
Dengan semangat solidaritas dan tekad yang kuat, belasan pemuda itu melangkah menyusuri jalan dari Rumpin menuju pusat pemerintahan Jawa Barat.
Mereka berharap, langkah kaki mereka yang panjang bisa membuka pintu dialog yang selama ini tertutup.