BOGOR, CEKLISSATU - Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kota Bogor mengatakan kasus kekerasan anak di Kota Bogor menjadi perhatian khusus. Meski kasus relatif lebih sedikit, namun kualitasnya cukup serius.
"Kualitasnya agak sedikit karena ini lebih banyak kekerasan seksual," ucap Ketua KPAID Kota Bogor, Dudih Syiarudin pada Selasa, 12 Juli 2022.
Dudih mengatakan, hal itu menjadi lampu kuning untuk semua pihak terutama bagi keluarga-keluarga yang berada di Kota Bogor. Dudih menegaskan, orang tua tidak bisa melepaskan anak begitu saja untuk mencari jati dirinya tanpa ada pengawalan, pengarahan dan pengawasan.
"Di era digital sekarang yang luar biasa ini, dapat menghambat bahkan mengganggu tumbuh kembang masa depan anak ketika kita tidak bijaksana memberikan informasi dengan pengguaan tersebut," ungkapnya.
Baca Juga : Viral Penganiayaan Remaja Putri di Kawasan Sempur, Polisi Buru Pelaku
"Salah satu utamanya penyakit yang banyak terjadi kekerasan adalah didapati berbagai informasi yang sangat luar biasa, banyaknya yang mereka bisa mengakses atau melihat dalam genggaman mereka sendiri," sambungnya.
Oleh sebab itu, lanjut Dudih, pihaknya mengajak seluruh komponen terutama orang tua jangan hanya sekali-kali sebatas memberikan kebebasan tanpa adanya edukasi dan mengawasi. Apalagi, kewaspadaan orang tua dalam menilai anak harud benar-benar diperhatikan.
"Misal ada anak yang tidak macam-macam banyak diam, tetapi bisa jadi dia dapat banyak melihat konten-konten yang tidak baik didalam ponselnya," ujarnya.
Dudih mengingatkan, pergaulan anak pun harus turut dipantau. Pergaulan ini sangat banyak cara dan gaya yang mereka lakukan. Contoh pergaulan dimana mereka kerap menirukan berbagai kalangan tertentu yang akhirnya belum tentu mereka memiliki kemampuan.
"Tapi karena keinginan untuk menirukan itu, akhirnya apapun hal-hal negatif bisa dilakukannya. Sehingga harus ada keterlibatan langsung dari orangtua, lingkungan serta kedepannya semoga dari KPAID akan membuat kebijakan yang membuat kondusifitas Kota Bogor," imbuhnya.
Kendati demikian, menurut Dudih, dibanding tahun lalu jumlah kasusnya hampir sama dan tidak begitu signifikan. Namun bedanya adalah Kota Bogor secara kelembagaan sudah siap.
"Jadi Kota Layak Anak itu bukan berarti tidak ada kasus kekerasan. Kekerasan itu tetap ada, tapi bagaimana reaksi cepat menuntaskannya lewat kelembagaan terkait yang akan kita utamakan," katanya.