BOGOR, CEKLISSATU - Pemerintah Kabupaten bogor melalui Dinas Sosial dan UPT Balai kesejahteraan sosial Kabupaten Bogor terus meningkatkan Standar Pelayanan, para penyandang disabilitas mental atau Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) agar mendapat layanan kesehatan yang semakin baik.
Kepala Bidang Pemberdayaan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Bogor Drs. Dian Mulyadiansyah menyebutkan, jumlah penyandang disabilitas mental di Kabupaten Bogor yang telah berhasil dilakukan pendekatan dan pendataan hingga tahun 2022 tercatat ada 2.767 orang.
“Awalnya terus terang saja mereka itu kesulitan dalam mendapatkan akses di kependudukan, sementara untuk mendapatkan akses-akses bantuan pelindungan sosial dasarnya adalah mereka harus punya administrasi kependudukan, makanya kita dorong ke keluarga untuk di masukan dalam kartu keluarga, sehingga mereka memiliki nomor induk kependudukan,"kata dia.
Baca Juga : Bikin Resah, 4 Pemuda di Cianjur Habisi Nyawa ODGJ
"Barulah kita bisa merujuk ke rehabilitas sosial baik melalui pengobatan ataupun rujukan ke Rumah Sakit Marzoeki Mahdi di Bogor untuk menerima pelayanan medis bersama dengan teman-teman Dinas Kesehatan dan Puskesmas dibidang kesehatan jiwa, dan yang sudah dalam proses rehabilitasi medis itu hampir setengah dari jumlah tersebut,"papar dia.
"Mereka sudah secara rutin melakukan pengobatan dengan didampingi dengan para pendamping disabilitas mental” ujar Dian.
Ditambahkan Dian, pada tahun 2021 Pemerintah Kabupaten Bogor melalui Dinas Sosial telah mendorong mereka untuk mendapatkan bantuan sosial berupa modal usaha bagi 136 penyandang disabilitas mental yang sudah dianggap mampu berusaha dibidang usaha sesuai kemampuannya seperti jualan sembako, ternak perikanan, dan ada yang di peternakan domba.
Baca Juga : Polsek Cibinong Amankan Pelaku Diduga Aniaya ODGJ Hingga Tewas
Sementara itu, Kepala UPT Balai Kesejahteraan Sosial Kabupaten Bogor Fitri Sriwahyuni mengungkapkan penyandang disabilitas mental harus ditangani secara intensif dan berkelanjutan, agar mereka mampu kembali menjalankan fungsi sosialnya secara wajar dalam kehidupan masyarakat.
“Jadi yang kami temui ya rata-rata yang sakit, eks ODGJ, yang dukanya itu kadang mereka tidak diterima sama keluarga, tempat ini adalah shelter. Staff di sini tugasnya selain assessment, juga psikososial ya, jadi pendekatan-pendekatan kepada client,"beber dia.
"Jadi, setiap pagi kita ada kegiatan rutin kaya senam, kalau lansia kan belum bisa senam ya, paling kita ajak belajar jalan biar mereka bisa mandiri, ya karena tadi itu target kita kan yang ngerujuk ke panti kan harus mandiri ya,"pungkas dia.
"Terus paling kegiatan kaya makan siang, atau snack itu kan sudah rutin ya setiap hari di kami itu, Jika sudah ada yang kelihatan pulih, dan tidak tahu keluarganya di mana, akhirnya dirujuk ke panti. Beda halnya kalau ada keluarganya yang mau jemput, Tergantung sih mau diantar atau bagaimana”ungkapnya.
Di samping itu, Fitri menyampaikan upaya lain yang tidak kalah pentingnya yang dilakukan UPT Balai Kesejahteraan Sosial Kabupaten Bogor adalah Pemberdayaan ODGJ, yang bertujuan agar dapat hidup mandiri, produktif, dan percaya diri di tengah masyarakat, bebas dari stigma, diskriminasi atau rasa takut, malu serta ragu-ragu, namun upaya ini sangat ditentukan oleh kepedulian keluarga dan masyarakat di sekitarnya.
“Alhamdulillah sih sembuh mereka, rata-rata kan eks ODGJ ya. Akhirnya ada yang dua tahun di sini ada yang ketemu keluarganya, hari ini juga ada yang akan di jemput keluarganya pulang ke Ciputat Tangerang, bahkan kemarin ada yang ke sini untuk mengajarkan mereka kerajinan tangan, membuat dompet, dan lain-lain” tambah Fitri.
Fitri mengharapkan agar seluruh lapisan masyarakat, dapat mendukung upaya Pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan jiwa terbaik kepada masyarakat. Stigmatisasi dan diskriminasi terhadap siapa pun juga harus dihapuskan agar tidak berdampak pada munculnya berbagai masalah sosial, ekonomi, dan keamanan dimasyarakat.
“Kalau ODGJ kan tergantung dari keluarga ya. Karena kan rata-rata permasalahannya di keluarga ya. ODGJ kan dari kehidupan pribadinya dia dengan stress dia ya mungkin depresi, akhirnya mungkin keluarganya tidak mendukung dia ya dengan kondisi penyakitnya, malah yang ada dipojokkan, akhirnya mereka kabur di jalanan. Kita harus merangkul, harus menerima, harus mendukung, jadi jangan sesudah dia sakit atau dia diobati, dia dibiarkan begitu saja karena mereka butuh dukungan keluarga,"ujanya.
Redaksi