JAKARTA, CEKLISSATU – Perkembangan penyaluran kredit ikut mendorong likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2). Bank Indonesia (BI) mencatat M2 tumbuh 9,8% dibanding tahun sebelumnya atau sebesar Rp8.222 T.

Penyaluran kredit pada Oktober 2022 tumbuh 11,7 persen (yoy) menjadi Rp6.314,4 triliun, setelah bulan sebelumnya tumbuh 10,8 persen (yoy), yang terutama ditopang penyaluran kredit produktif (investasi).

“Peningkatan penyaluran kredit terjadi baik pada nasabah korporasi yang tumbuh 14 persen (yoy) maupun perorangan, yakni 10,4 persen (yoy). Adanya peningkatan penyaluran kredit ini mempengaruhi pertumbuhan M2,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono dalam keterangan resminya, Rabu 23 November 2022.

Baca Juga : UMP dan UMK 2023 Segera Diumumkan, Paling Lambat 7 Desember

Selain itu, perkembangan M2 juga didorong oleh pertumbuhan uang beredar dalam arti sempit (M1) sebesar 14,9 persen (yoy) dari bulan sebelumnya yang hanya tumbuh 13,5 persen (yoy).

M1 meliputi uang kartal di luar Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang tumbuh 5,5 persen (yoy) , giro rupiah 32,6 persen (yoy), serta tabungan rupiah ditarik sewaktu-waktu 6,9 persen (yoy).

Komponen M2 lainnya yaitu uang kuasi, dengan pangsa 42,7 persen, tercatat tumbuh melambat dari 3,8 persen (yoy) pada September 2022 menjadi 3,5 persen (yoy) pada Oktober 2022 menjadi Rp3.511,7 triliun. Sementara surat berharga selain saham tumbuh 29 persen (yoy) menjadi Rp26 triliun.

Komponen uang kuasi terdiri dari simpanan berjangka (rupiah dan valuta asing/valas) yang meningkat 0,3 persen (yoy), tabungan lainnya (rupiah dan valas) 16 persen (yoy), serta giro valas 14,3 persen (yoy).